Selasa, 31 Agustus 2010

Catatan tahunan : Darah warnanya merah...warna yang cocok untuk dinding kamarku...

“Cetuskan sedikit Anarkisme...goncangkanlah kemapanan dan semua menjadi kekacauan”

Ujung belati,ujung popor senapan...hingga air mata,dan kebencian menjadi cerita tahunan disini. Menjadi distopia yang tak pernah diinginkan para penikmat kebunbunga matahari...tapi itu semua berjalan sesuai rencana,dan jika semua sudah terencana,Tentu seharusnya tidak ada yang merasa kalap,takut,benci...atau setidaknya sedikit merelakan apa yang sudah terjadi. Rencana bagi seorang perencana adalah hal yang paling membahgaiakan sekaligus membanggakan,terlepas dari pluralisme baik dan buruk.

Hari ini.hari dimana masyarakat pada umumnya masih memutar otak merencanakan masa depan paling indah dalam hidup mereka...mencoba memupuk cinta dan persahabatan dengan cara yang tidak merugikan atau bahkan dengan cara apapun...kami,tentunya aku...mungkin juga kau dan kalian semua masih belum cukup mengerti tentang masa depan...cinta,persahabatan,keindahan,kebaikan dan keburukan menjadi sangat plural dan kabur,seiring dengan berjalannya waktu dan sistem yang memakan usia kita. Ranah abu-abu...prediksi akhir dunia dan semesta...Nihilisme,sebagian dari kami mengatakan itu. Dan itu semua...itu semua...semakin mempertegas bahwa konsep semesta pada akhirnya akan berakhir pada spiral yang sangat memusingkan,kadang menjerumuskan beberapa individu untuk memulai terapi...terapi yang kami sebut “terapi senyuman”.

“bermain-mainlah dengan masalah,niscaya masalah akan semakin membuatmu menjadi kuat”...perkataan seorang guru geografi disebuah sekolah menengah atas tersebut mematri dibenak para pemuda rawan bencana yang terduduk diam didalam kelas,saat pelajaran berlangsung.

Ada berapa buku bermanfaat yang kini tersebar di toko buku gramedia???...ada berapa buku “Iblis menggugat Tuhan” yang kini terselip di rak buku para pemuda rawan bencana itu??? Buku apa lagi???...“Mein Kampf”atau “Das Capital??? Al-Qur’an...Injil...???dan buku-buku candu lainya???...jangan menjawab dengan angka...nominal hanya akan mematahkan logikamu.bagi sebagian dari kami menelaah itu semua hanya dengan sedikit sesi terapi...pikirkan dengan hati,pelajari semua kejadian dalam “buku sejarah”,walaupun sejarah hanya sekedar lubang tai dunia...namun lagi-lagi tentang spiral dan bukan jalan keluar,dimana itu semua semakin membuatmu menjadi sesuatu yang terbuang dari duniamu sendiri. Perilaku tidak adil dunia luar terhadapmu...Teralienasi...depresi,gangguan jiwa,anti sosial...hingga air mata bermuara pada kebencian yang membuatmu memutarbalikan fakta dan merancang keyakinan serta kemungkinan-kemungkinan tidak wajar.

ini semua tentang pilihan,dan pilihan itu bersifat memaksa karena-Nya...kau memilih menjadi penyulut api perang pembela Hak pribadi...aku memilih menjadi seniman revolusi pengobar perdamaian.kau memilih menjadi orang tua bijak nan konservatif...aku memilih jalanan sebagai cita-cita.semesta seolah menjadi timbangan keadilan para “pemilih peran”. Sebab-akibat...aksi-reaksi...siapa yang patut disalahkan?mengapa???...soal rencana???...aku tak tau...pikirkanlah,diskusikan dengan keyakinan dan Tuhanmu.

.........................................................................................................................................................



“Mari kita tersenyum dan tertawa”...

Pukul 23.58...si Parmin menatap dalam-dalam pada sebuah cermin,memperhatikan setiap jengkal bayanganya.tidak cukup buruk parasnya untuk menjadi seorang gila.kemudian ia bersiap dengan belati...lebih tepatnya hanya pisau dapur...mendatangi orang-orang yang ia kenal (bahkan yang pernah ia cintai)lewat mimpi mereka. Saat salah satu dari mereka dapat bermimpi indah malam ini,Parmin sudah mengetuk pintu belakang rumah mereka dengan wujud yang sangat berbeda dari biasanya...ya,ia bisa muncul dalam berbagai sosok. Tahun lalu sebagai pria dengan setelan jas rapih,persis seorang pejabat atau pemimpin negara. Bulan yang lalu ia berlagak seperti seorang jerman berbadan kekar dan berambut plontos,serupa anggota geng skinhead Nazi yang haus perkelahian. Kemarin ia merubah total penampilanya menterupai monster haus darah dengan gigi dan cakar yang siap mengorek isi kepalamu...dan sekarang ia tampak lucu sebagai seorang penyiksa. Parmin memoles mukanya dengan riasan bedak tebal dan warna merah dan hitam disekitar mulut dan kelopak matanya...sekilas seperti perawakan para “punakawan”(semar,bagong dkk).ia menyeringai dalam-dalam mengamati sosok orang yang pernah ia kenal dekat sedang tertidur pulas.

Pukul 02.17...si Parmin masih sibuk menguliti kepala korbanya,beberapa saat setelah ia memotong lengan sebelah kanan dan menguliti telapak kaki korbanya...tampak jelas rasa sakit yang terdengar dari mulut sang korban yang ternyata adalah teman satu kelasnya dibangku sekolah menegah...Parmin tidak perduli dengan semua itu,yang ia tau adalah bagaimana tertawa saat menyaksikan air mata dan darah yang keluar dari tubuh korbannya. Ruang eksekusi berlangsung di kamar pribadi Parmin sendiri yang tidak beratap itu...hanya beratapkan langit,cahaya bulan seolah menjadi saksi setiap detik “atraksi” yang sudah berkali-kali dilakukan Parmin. Ruangan tiga kali empat itu cukup sempit untuk sebuah pertunjukan...belum lagi perangkat-perangkat pendukung yang bercampur dengan benda-benda pribadi miliknya...suasana ruang semakin terlihat “sumpek” tidak karuan ditambah aroma tidak wajar lainya. Namun semua sudah terencana...bagi seorang perencana seperti Parmin...itu semua sangatlah menyenangkan dan membuatnya tersenyum...hadapi hidup dengan senyuman...

Pukul 02.56...Parmin hampir selesai dengan “pekerjaannya”...kini tinggal membuat korbanya tidak bisa melihat jendela dunia lagi...bagi seorang pelukis seperti korbanya,itu adalah hal yang sangat sakit...tapi lagi-lagi Parmin menunjukan bagaimana seharusnya menjadi seniman tulen...Pukul 03.00...Parmin selesai...ia menyeringai dan berkata kepada temanya...”kau tahu tentang supremasi warna,wahai pelukis???tentunya kau tau itu...adalah merah,hitam dan putih...aku ingin dinding kamarku seperti itu.hitam dan putih tidak sulit aku dapatkan,karena itu sudah ada dalam diriku...tapi apakah kau tau warna merah yang sebenarnya???...

.........................................................................................................................................................

“Ada berapa pemburu yang sudah mematahkan sayapmu nak???...ada berapa manusia yang sudah memenjarakan keluarga kita dalam sangkar???...sudah,biar aku yang membalaskan semua dendammu itu...duduklah disini,beristirahatlah,cobalah untuk tetap tersenyum selagi sayapmu diobati oleh Ibu...biar bapak yang akan mengajari mereka bagaimana caranya terbang seperti seekor burung...”

Untuk Bapaku...sang kebebasan,terimakasih sudah mengajarkanku terbang...terimakasih untuk memberikanku kesempatan untuk melihat semesta dari atas sini...dan Ibu...sang pengasuh semesta,terima kasih sudah membuat hidup dan duniaku semakin indah...agar aku bisa terus belajar menghargai setiap insan yang terlahir di dunia ini. Tapi,mengapa mereka selalu sombong untuk menatap semua ini???...tatapan mata mereka seolah menertawakanku...mengusirku dari dunia...dan mengintimidasi setiap lahirnya perbedaan???.kita memang bukan mereka...dan tak pernah menjadi mereka.

Ribuan,bahkan ratusan burung gagak memenuhi lagit yang kala itu sehitam jelaga...serupa pasukan ababil...kini sosok mereka semakin menakutkan,bukan hanya ukuran yang semakin besar (hampir sebesar orang dewasa) namun juga paras yang sangat menakutkan. Kuku-kuku tajam yang siap menerkam,paruh pelumat daging manusia,dihiasi bulu-bulu bercorak hitam pekat...semakin menambah sosok gelap para pemakan bangkai itu...dan sekarang bukan bangkai yang akan mereka makan,namun yang hidup!!!...sebagian dari manusia itu tak lagi bernyawa,selebihnya dibawa ke sangkar-sangkar mereka dilapisan bumi yang tak pernah diketahui...dengan dendam dan perasaan paling jahat para gagak,tubuh manusia-manusia itu sudah tidak dibiarkan berguna lagi...darah-darah mereka dibiarkan menghiasi dinding-dinding sangkar yang sebelumnya hanya berwarna hitam dan putih. Beberapa sisa-sisa tubuh manusia dari penyiksaan brutal itu menjadi hiasan sementara kerajaan gagak.

Kau tau???...ada cukup banyak daftar orang yang mungkin ingin kita sakiti...kita permainkan...bahkan kita bunuh,karena kebencian.semua tak cukup dalam satu lembar kertas untuk membuat daftarnya. Dalam satu kurun waktu saat kau hidup,hal-hal seperti itu tak mungkin terelakan...jadi,bagaimana selanjutnya sang perencana,merencanakan rencananya???...itu pilihan sang perencana yang memaksa...lalu setelah itu,ucapkan selamat tinggal pada seluruh cinta dan kasih sayang yang pernah menghiasi hidupmu...terkadang,itu semua hanya terpaut beberapa detik.sungguh rahasia semesta yang memukau...

Beberapa kata manis yang keluar dari mulut gadis manis seperti dirinya membuatku merasa menjadi orang paling jahaat sedunia...berakhir pada tragedi-tragedi penyebab tragedi-tragedi mengerikan lainya...berusaha mengelak???sudah terlambat kiranya...lalu???mencoba menikmatinya dengan senyuman???...ya,jika kau mampu. Dan jika aku tak mampu...berakhirlah dengan anfal yang sudah terencana. Apa lagi sekarang???masih berdiskusi pada keyakinan-keyakinan itu???...bagus,silahkan putar otak mencari jalan keluar labirin yang berbentuk spiral ini. Terima kasih...

“Kegilaan seperti gravitasi...hanya perlu sedikit dorongan untuk memulainya”...

Minggu, 22 Agustus 2010

Burung gagak dan bunga matahari

Sebuah penghargaan kepada yang terindah...ekspresi tentang pesona dan cinta yang selalu indah namun terlanjur busuk dan berkarat. Semua hanya terjadi saat beberapa saat dan beberapa iblis mengetuk pintu belakang rumahmu...mengajakmu menari...lalu...semuanya hilang... harapan dimana kau bisa berlari bebas sepanjang kebun bunga itu...kini hanya imaji malam hari.
“cinta pertama belum tentu seindah yang dibayangkan”kata seorang sahabat...beberapa hari sebelum kumpulan aksara ini dikumpulkan,ia berkata...
Sebuah antologi atau kumpulan puisi???aku tak begitu mengerti...




Lewat cipularang


gelisah...



mulut memang bisa terbungkam dan tanpa senyuman
namun hati bicara,nurani tak tinggal diam

beri aku secarik kertas dan pena berujung cinta
kupersembahkan tarian kuas dilantai kanvas...
bukan sembarang tari tak pakai hati...
maka bermuara bahagia menolak duka

pak supir!...aku tau bus ini melintas cepat...
tapi aku tak mau senyumku ini cepat berkarat!...

belum lagi habis...didepan menunggu
kebun bunga yang kau tuju



memang tak pernah berwarna
karena senyumu yang membuat gambar ini berwarna



Drama burung gagak dan bunga matahari


bunga matahari mekar kembali
tahun ini sudah berapa kali???...
lagi-lagi...
burung gagak berhenti bernyanyi dimalam hari...sepi...
mati...

mungkin setelah ini aku akan menangis...atau tersenyum,siapa yang tau
bunga matahari mekar kembali
tahun ini sudah berapa kali???...
lagi-lagi...
burung gagak berhenti bernyanyi dimalam hari...sepi...
mati...

siapa yang tau ketika melihat mekarmu
minggu pagi...seperti disaat dulu
dimana anak kecil masih bermain diluar rumah
dimana kau dan aku masih asik berdiskusi tentang mereka...
atau lucunya seekor anjing piaraaan tentangga

semuanya tampak beda dan tak sedikitpun sama
ketika semua tak sanggup menerima perbedaan serta kejanggalan...
padahal...semesta luas...
semesta luas,karena tak seluas pikiranmu...
dan ternyata juga tak seluas cintamu kepada semesta dan perbedaan

bunga matahari mekar kembali
tahun ini sudah berapa kali???...
lagi-lagi...
burung gagak berhenti bernyanyi dimalam hari...sepi...
mati...



Kisah sebuah gambar


diantara warna-warna indah itu
tersebut terlupakan namun perlahan menampakan...
karena pesonanya yang kembali menawan
menarik setiap sepasang mata orang gila yang haus cinta dan keindahan

ah...lagi-lagi teringat kembali...
gara-gara hanya sebuah gambar...

memang sangat indah
tapi...yah,sudahlah...
entah kemana
tak bisa terjangkau lagi

tapi mata ini tak bisa berbohong
apalagi tentang gambar itu...


Terpaku jarak,waktu dan ragu
Jarak antara kita memang jauh
Serupa Jakarta Bandung...

Hujan meninggalkan wanginya di aspal jalan kotaku
Langit sore hari menyambut indahnya petang
Disnalah kita berjumpa
Hingga tengah malam tiba
Kau pun kembali bersuaka

Sayang...ini hampir tengah malam
Sedangkan kau masih acuh mencumbuku
Salah apa???
Waktu kita tidak banyak
Sedangkan kau masih berselimut ragu...



Pelukis pelukis


Ketika aku tiba
Ia sudah disana…
tentu dengan kuas dan kanvas putihnya
semilir angin sore itu yang mempertemukan aku…
dengan dirinya…
belum juga petang…belum habis tengat sore hari
belum juga tengat matahari terbenam
matahari masih menjadi saksi pertemuan kita
sayang…jangangan sia-siakan waktu kita
waktu dimana Dia berkata “ya!”…
waktu dimana aku masih tersenyum
waktu dimana candamu menjadi candu
karena esok belum tentu ada…atau aku telah tiada…

karena kuas dan kanvas putihmu yang mampu menjawab semuanya
yang mampu melukiskan realita dan cinta
yang mampu membuat diriku lebih berwarna
yang mampu menyadarkan manusia aneh ini…
bahwa betapa kejamnya dunia

jangan ragu…lakukanlah!!!
Lukai aku dengan perasaan itu
Akulah kanvas putihmu
Kanvas putih yang belum mengerti indahnya cinta…
Sebelum bertemu dirimu…terima kasih pelukis hati…



Aku gagak hitam yang terbang setiap malam


Aku gagak hitam yang terbang setiap malam
Malam dimana dirimu terpejam
Dan bermimpi tentang dunia yang kejam
Sayang...aku datang dan terbang kehadapanmu
Berharap belas kasihan atas sayap-sayapku yang patah
Dan pikiran yang tak tentu arah
Namun sungguh sayang...
Aku terbang semakin tinggi dan tak sanggup turun
Menatap senyum ceriamu aku tak sanggup...
Tak sanggup atau engkau tak berkenan?
Ingin rasanya aku berlari bersamamu
Di padang luas tak berujung serupa woodstock
Menatap langit tak berujung lapis
dan merasakan angin kedamaian yang tak kunjung habis
Namun sungguh sayang...
Hanya sekedar mimpi yang tak kunjung henti
Dari seekor gagak malam hari



Kepada yang terindah


Aku kembali menari dibawah langitmu
Aku kembali tersenyum menatap ronamu

Sesungguhnya abadilah...
Walau abadi adalah mati

Hai yang terindah...
Bicaralah
Aku tak pernah menutup raga
Menyambut datangmu
Sekalipun sabdamu membawa derita
Sekalipun air matamu bermuara neraka

Aku rindu gelak tawamu
Aku rindu tangismu
Aku rindu diskusi kita tentang mereka...



...

Tak satupun buku yang habis ubtuk dibaca...
Tanpa disengaja...

Sudah berapa lama,aku tak ingat
Dan itu tak ubah rasaku padamu
Suka,duka,rindu,malu...
Cinta,hingga benci bercampur sesal
Aku tak tahu......................................